Semu,
itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan cerita cinta di dunia ini. Cinta
hanyalah sebuah pengharapan dari dua sosok insan manusia yang saling suka.
Cinta di dunia ini merupakan hal yang fana, bukan abadi seperti yang sering
digambarkan dalam layar kaca. Suatu saat rasa cinta akan berubah seiring
berjalannya waktu. Hanya cinta kepada Tuhanlah yang abadi dan tak pernah
mengharap kembali.
-Annisa, Semarang 2012-
Tawanya yang
menular, tawa kita, merupakan segala-galanya bagi kita, hubungan kita. Bersama
dengannya saat ini, membuatku merasa ‘Yeah,
you’re the one. Yes you, the last guy that I find in my project to finding Mr. Right.’ Keadaan saat ini membuatku melayang, di dunia
ini serasa hanya ada ‘kamu’ dan ‘aku’.
“Thankyou ya ay,
buat hari ini. Seru banget nggak sih kita tadi late dinnernya? Udah serasa dunia milik berdua aja, ketawa ketiwi
kenceng banget. Mulai dari ngobrolin ini, itu, sampai ngomongin orang segala,” teriakku
di bagian belakang motor. Kupeluk Dennis erat dari belakang motor. Malam minggu
kali ini cuma kami habiskan ngobrol di salah satu kafe di Kota Malang.
Dinginnya udara Malang yang kian malam makin menusuk membuatku mempererat dan
merapatkan tubuhku ke Dennis.
Dennis tampaknya
tahu aku kedinginan, dia menggenggam tanganku dan memasukkan tanganku ke
kantong jaketnya kemudian dia meremas tanganku. “Iya ay, hari ini nyenengin banget. Biarpun cuma ngobrol ngalor-ngidul gak jelas kayak tadi. Kamu kedinginan
ya? Mau pakai jaketku? Sweater kamu kayaknya ketipisan, bisa masuk
angin kamu ntar ay.” Dennis mulai mengurangi kecepatan motornya dan menepi.
“Nggak, nggak
usah ay, kasihan kamu nanti malah kamu yang masuk angin. Kamu kan di depan,
sedangkan aku masih ketutup badan kamu,
jadi nggak terlalu dingin,” tolakku.
“Beneran nih
nggak kenapa-kenapa? Kalo masuk angin nggak tanggung lho ya, dibilangin susah
kamu tuh.”
“Yaaaah, kalo
sakit, ya kamu siap-siap jadi asistenku selama aku sakit sampai sembuh. Kamu
harus bikinin tugas-tugasku kuliah ya, kan kalo sakit butuh istirahat total
tuh.” Aku dan Dennis memang kuliah dalam satu jurusan di Jurusan Teknik Sipil di salah satu institut teknik di Kota Malang.
“Yeee,
enak-enakan dong kamu sakit. Tugasku aja belum dikerjain, suruh ngerjain
punyamu. Mana gak ngerti lagi,” tukas Dennis seraya menyundulkan kepalanya yang
menggunakan helm ke arah belakang, menubruk helmku.
“Aduh, ay, kamu
tuh iseng banget sih. Errrk” Kubalas dia dengan mencubit perutnya. Kami berduapun
kembali tertawa lepas, di antara lalu lalang kendaraan lain di tengah
dingginnya Malam Minggu di Kota Malang. Hawa dingin yang tadi kurasakan pun jadi tak terasa diantara tawa canda kita berdua malam itu.
Seandainya moment-moment seperti ini bisa
berlangsung selamanya….
Bersambung-
wah hidup seperti ini memang manis banget, kapan yaaaaaa :D :|
ReplyDelete