Dalam suatu
hubungan, tentu ada pertengkaran-pertengkaran kecil. Seperti yang orang
kebanyakan bilang, ‘Pertengkaran-pertengkaran kecil itu adalah bumbu-bumbu
cinta’. Hmmm, yeah, aku pribadi setuju dan nggak setuju dengan statement itu. Bisa dikatakan setuju
jika pertengkaran berakhir dengan suatu penyelesaian dan instrospeksi dari
kedua belah pihak. Apabila telah mencapai suatu penyelesaian, mungkin bisa
dikatakan pertengkaran memang justru menambah chemistry pasangan. Tapi jika dalam suatu pertengkaran, tidak ada
suatu penyelesaian yang mampu memuaskan kedua belah pihak, ini justru yang akan
menjadi bom waktu, yang pada saatnya nanti akan meledak dan akan menghancurkan
perasaan yang telah dibangun. Dan pertengkaran nggak luput mengunjungi
hubunganku dengan Dennis.
“Enaknya kemana
nih ay? Mau makan dimana?”, seru Dennis begitu melihat ak keluar dari pagar
kos.
“Emm… emmm mana
ya? Bosen jalan-jalan di sini-sini aja nih ay. Eh, cobain ke Pekan Raya aja yuk
ay. Mumpung lagi ada Pekan Raya di Lapangan Rampal? Kemarin sih si Ayu cerita
katanya dia sama pacarnya yang datang dari Surabaya mau main ke situ. Siapa tau
aja ntar bisa ketemu Ayu sama pacarnya di sana.” Sahutku cepat begitu teringat
obrolan dengan Ayu kemarin. Ayu mau ngajak pacarnya yang dari luar kota ke
tempat-tempat yang istimewa dan khas Kota Malang. Aku sendiri yang bukan
domisili asli Malang, juga belum pernah datang ke Pekan Raya Malang. Penasaran
suasana seperti apa di Pekan Raya di Kota Malang ini.
“Ah, yang
lainnya deh ay, seriusan mau kesana? Rame banget lho ay di sana, sumpek penuh
orang-orang.”
“Mana lagi coba?
Paling-paling ya ngemall, makan, terus pulang. Jenuh banget gitu-gitu melulu.
Kan aku juga pengen lebih tahu tentang Kota Malang.” Keluhku mencoba
mempertahankan pendapatku. Jujur aku mulai jenuh jalan-jalan ke tempat-tempat
itu saja, ketempat yang dia suka. Sekarang aku pengen jalan-jalan ke tempat
yang aku suka.
“Yaudah,
terserah kamu ajalah ay!” Tanggap Dennis singkat. Aku sumringah karena
keinginanku dituruti Dennis, meskipun sepertinya Dennis agak-agak nggak ikhlas.
Sepanjang
perjalanan menuju Lapangan Rampal, aku mulai ngoceh tentang obrolanku dengan
Ayu dan hal-hal ringan. Namun saat aku menyadari Dennis hanya menanggapi
singkat, aku mulai diam dan memperhatikan. Dia nggak seperti Dennis biasanya
yang selalu rame dan menanggapi segala ocehanku, hingga obrolan kami menjadi
seru. Saat aku mulai diam, Dennis juga diam. Hanya sesekali saat berhenti di
lampu merah, kebiasaannya mengetukkan helmnya ke helmku masih menunjukkan
Dennis yang biasanya, meskipun masih tetap dalam keheningan.
Perasaanku mulai
nggak enak, Dennis tampaknya benar-benar nggak suka harus pergi ke Pekan Raya.
Meskipun begitu, aku tetap diam. Aku nggak pengen meralat keinginanku pergi ke
Pekan Raya.
Begitu sampai di
Lapangan Rampal, Malang, seperti dugaan Dennis sebelumnya, penuh sesak oleh
lautan manusia. Dennis mulai mengoceh membenarkan apa yang telah dia katakan
sebelumnya sepanjang memasuki area pekan raya.
Suasana di area
pekan raya tersebut memang penuh sesak. Di antara ribuan manusia itu kami mulai
mengantri masuk ke area pekan raya. Bau keringat bercampur asap rokok menyengat
hidungku. Banyaknya orang yang berlalu lalang masuk dan keluar mulai membuat kepalaku
pening. Dennis menuntunku dari belakang masih sambil mengoceh betapa benar apa
yang dia katakana. “Sukurin, bener kan apa yang aku bilang!” Bisiknya di
telingaku agar suaranya terdengar dan mampu mengalahkan hiruk pikuk pekan raya.
Aku hanya meringis masam. Memang betul apa yang dikatakannya. Tapi, nggak ada
yang harus disesali. Kalau nggak mencoba kan bakalan penasaran, dan nggak lucu
aku merengek minta diajak ke Pekan Raya beberapa hari kedepan.
Begitu sampai di
tengah area, kami mencoba beberapa permainan, lalu kami akhirnya memutuskan
untuk lebih baik pulang. Tak jauh beda dengan saat masuk ke dalam area pekan
raya, saat keluar dari area juga harus mengantri di tengah ribuan manusia yang
berdesakan antre untuk keluar area. Dennis menggenggam erat tanganku dan dengan
cekatan mencari celah-celah di antara orang-orang yang berdesakan agar kami
bisa segera keluar dari area tersebut. Kepalaku bertambah pening, ditambah rasa
nyeri akibat menabrak besi permainan bianglala.
Pintu keluar
sudah terlihat, aku mulai lega dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Aku
segera menghirup udara luar Kota Malang sebanyak-banyaknya seolah untuk
menggantikan pasokan oksigen yang telah menipis di dalam area pekan raya.
Kami berdua
segera menuju ke pelataran parkir, dan pulang ke kosku. Di sepanjang
perjalanan, Dennis kembali diam. Keheningan ini mulai membuatku merasa nggak
nyaman. Tadi sepertinya dia di dalam pekan raya banyak mengoceh dan tertawa
meskipun muka dongkol dan tidak suka masih tersirat di wajahnya. Aku
memberanikan diri bertanya, “Kamu kenapa ay, kok diam aja.”
“Capek ay.”
Ketusnya singkat. Selanjutnya aku lebih memilih diam.
Saat berhenti di
lampu merah, Dennis menyodorkan earphone yang terhubung dengan handphonnenya
padaku. Oh, ternyata dia sedari tadi memakai earphone. Great! Perasaan merasa bersalah yang semenjak tadi aku rasakan
mulai berubah menjadi rasa marah. Namun aku lebih memilih diam dan menuruti
permintaannya untuk mendengarkan lagu yang juga ia dengar. Lagu yang sedang
diputar di adalah Brand New Day - Ten 2
Five. Hanya dari lirik lagu tersebut air mataku menetes, tanpa suara, hanya
mendengar lagu tersebut diputar hingga selesai. Satu kata yang kuucapkan begitu
lagunya selesai diputar adalah “Thank You!”
Bersambung –
A brand new day for
you and me
In this place as husband and wife
We'll be holding on till we grow old, together, forever and ever
I promise you, that I'll please you with my endless love and passion
and I will never leave you...
Reff :
This is a journey that will never end
We'll have our children named Jeremy and Felicia
We'll have a beautiful house
With a bench and apple tree
I know it sounds too much
But this is a brand new day
Ohoo..
Oh this is a brand new day..
Oh..oo...
* Back to reff :
A brand new day
For you and me
In this place as husband and wife..
In this place as husband and wife
We'll be holding on till we grow old, together, forever and ever
I promise you, that I'll please you with my endless love and passion
and I will never leave you...
Reff :
This is a journey that will never end
We'll have our children named Jeremy and Felicia
We'll have a beautiful house
With a bench and apple tree
I know it sounds too much
But this is a brand new day
Ohoo..
Oh this is a brand new day..
Oh..oo...
* Back to reff :
A brand new day
For you and me
In this place as husband and wife..
ceritanya kompleks. Karakter masing2 indvidu mulai tampak. Ditunggu untitled ke-3 :)
ReplyDeletenice,seandainya lebih panjang,. :D
ReplyDeletenice,seandainya lebih panjang,. :D
ReplyDeletesiaap mas hendrawan, budi, tunggu untitled #3 nya yaa :d. Makasih udah komen :)
ReplyDelete