Kebetulan, saya adalah seorang mahasiswi yang kuliah di salah satu universitas di Kota Semarang yang berasal dari Kota Salatiga. Tak heran apabila saya sering melakukan perjalanan Semarang-Salatiga. Bagi saya, perjalanan selama 1,5 hingga 2 jam (maksimal kalo macet) paling nyaman adalah dengan menggunakan angkutan umum, yaitu bus. Selain mudah dicapai dari rumah, biaya yang relatif murah (Tarif Semarang-Salatiga Rp 10.000) dan kenyamanan (rata-rata ber-AC dengan seat 2-2) saat menumpangi armada tersebut membuat saya lebih memilih menggunakan bus.
![]() |
| Salah satu armada bus Solo-Semarang (http://bismania.org) |
Saat berada dalam bus menuju Kota Semarang siang ini, saya merenungkan bagaimana bus Solo-Semarang ini menurut saya merupakan contoh angkutan umum yang dapat dikatakan berhasil mengubah perilaku masyarakat tentang penggunaan transportasi publik. Saat jam-jam puncak orang datang dan pulang bekerja, bus ini tidak pernah sepi penumpang. Bahkan terkadang, bus PATAS (cepat dan terbatas) tidak lagi "terbatas" karena di dalam bus penuh sesak dengan para penumpang yang berdiri. Ini menunjukkan bahwa armada bus ini sangat diminati dan mampu merubah orang-orang termasuk saya untuk menggunakan angkutan umum dibanding kendaraan pribadi.
Saya kemudian membandingkan dengan angkutan kota (angkot) yang melayani transportasi dalam kota. Setiap orang yang memiliki kendaraan pribadi pasti lebih memilih menggunakan kendaraannya sendiri daripada menumpang angkot. Bagaimana tidak, kondisi angkot saat ini sangat memprihatinkan. Kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah "mahal, suka ngetem, reyot, sesak, dan terkadang bisa juga dikatakan tidak aman." Saya mengatakan mahal karena apabila dihitung-hitung perjalanan menggunakan angkot dalam satu kota (termasuk oper angkot) cenderung lebih mahal dibanding biaya bensin yang dikeluarkan untuk kendaraan pribadi.
![]() |
| Kondisi angkot yang tidak kondusif (ttp://yogyakarta.panduanwisata.com) |
Bagaimana bisa begitu? Adakah perbedaan sistem pengelolaan bus dan angkot?
Setelah mencoba googling, kemudian saya akhirnya mengerti dan dapat membedakan sistem pengelolaannya. Mengapa bus dapat menjadi armada yang nyaman, ber-AC, dan murah? Sebaliknya, angkot menjadi armada yang "mahal dan tidak nyaman"?
Ternyata bus dikelola oleh perusahaan yang sering dikenal dengan PO (perusahaan otobus), sehingga dalam pengelolaannya cenderung termanajemen serta penyediaan armada bus yang cenderung nyaman. Berbeda dengan angkot, kepemilikan angkot tidak diwadahi dalam suatu perusahaan tertentu, dan cenderung privat. Maka dari itu tak heran, apabila angkot sering ngetem menunggu penumpang penuh dan antar angkot sering berebut untuk mendapatkan penumpang.
Dalam hal ini, saya setuju dengan pernyataan Jokowi untuk menyatukan pengelolaan angkot untuk mempermudah dalam manajemen dan pengawasan angkot yang selama ini cenderung susah untuk diatur. Dalam salah satu web yang saya temukan, saya tertarik dengan sistem pengelolaan angkot di Bogor. Dalam web tersebut, dinyatakan bahwa pengelolaan angkutan umum di Bogor diwadahi dalam Koperasi Puspa (Perhimpunan Pengusaha Pemilik Angkot Bogor), yang secara resmi telah menjadi badan hukum. Tujuan awal dibentuknya koperasi tersebut adalah untuk meningkatkan nilai investasi dibidang jasa angkutan dengan memperhatikan 3 hal, yaitu:
- Trayek yang kondusif
- Kondisi fisik angkot yang baik dan nyaman
- Kerjasama antar pengemudi angkot
Sebagai seorang planner dan penumpang angkutan umum, saya sangat berharap pemanfaatan angkutan umum dapat menjadi salah satu pilihan saat berpergian baik di dalam kota (jarak dekat) maupun luar kota (jarak jauh). Salah satu caranya adalah dengan mengelola angkutan umum tersebut dan menyediakan angkutan yang nyaman, aman, serta murah. Dengan demikian, minat masyarakat untuk naik angkutan umum dapat meningkat dan dapat mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang sering menjadi salah satu faktor utama penyebab kemacetan. Menurut saya pribadi, daripada menambah pengeluaran untuk penyediaan BRT, lebih baik perbaiki dulu angkutan yang ada daripada mubazir.


No comments:
Post a Comment